Kamis, 17 September 2009

Pemerintah Tambah Cadangan Risiko Fiskal


PEMERINTAH menegaskan, anggaran cadangan risiko fiskal perlu ditambah dari usulan awal Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2010.

Hal ini dilakukan karena pos anggaran tersebut dibutuhkan tidak hanya untuk mengantisipasi pembengkakan subsidi BBM, tetapi juga listrik. Demikian disampaikan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu, Kamis (17/9).

Anggito mengatakan, subsidi listrik perlu diamankan karena potensi pembengkakannya lebih serius dibandingkan subsidi BBM. Pasalnya, tambah Anggito, variabel makro yang memengaruhinya cukup banyak,

"Seperti, variabel kurs, variabel harga, variabel fuel mix, variabel losses, variabel marjin, dan ketentuan-ketentuan pinjaman," kata Anggito, ketika ditemui di gedung DPR, Jakarta.

Seperti diketahui, pemerintah telah mengusulkan penambahan dana cadangan risiko fiskal sekitar Rp 3-5 triliun dari usulan awal di RAPBN 2010 sebesar Rp 5,6 triliun.

Namun, Panitia Anggaran DPR hanya memberikan ruang peningkatannya maksimal Rp3 triliun. Menurut Anggito, penambahan dana resiko fiskal yang diusulkan pemerintah merupakan hal yang wajar. Sebab, jika pemerintah memilih lebih konservatif, tentu akan ada risikonya.

Kendati demikian, Anggito mengakui, besaran cadangan risiko fiskal yang proporsional untuk mengantisipasi lonjakan subsidi listrik dan subsidi BBM masih perlu dibahas lebih lanjut. Mengenai subsidi BBM tahun 2010, Anggito menuturkan masih relatif aman kendati tren harga minyak mentah dunia naik.

Konsumsi BBM juga masih bisa dikendalikan dengan adanya program konversi minyak tanah ke gas. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) juga sudah punya data informasi tentang alpha untuk masing-masing kabupaten.

"Jadi kurang lebih kita sudah bisa mengendalikan konsumsi BBM. Kalau listrik itu variabelnya sangat banyak sehingga kita lebih memberikan cadangan fiskal itu untuk listrik." tuturnya.(dar/kmp)

Rabu, 16 September 2009

Monopoli PT Pos Dicabut DPR


ERA monopoli PT Pos Indonesia di jasa pengiriman dokumen resmi berakhir. Kemarin, Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mencabut penguasaan pasar ini.

Pencabutan ini tertuang dalam Undang Undang (UU) tentang Pos yang terbaru. Peraturan ini sekaligus menggantikan UU No 6/1984 tentang Pos. "Tidak ada lagi monopoli PT Pos," tandas Ketua Komisi I DPR Theo L. Sambuaga, Selasa (15/9).

Sekadar mengingatkan, jika merujuk ke UU No 6/ 1984, swasta hanya diizinkan melayani pengiriman dokumen dan paket dengan berat di atas 2.000 gram. Di bawah itu, pengiriman harus melalui jasa PT Pos. Praktiknya di lapangan selama ini, banyak perusahaan yang mengabaikan batasan ini.

Nah, peraturan baru itu menyebut bahwa segala bentuk badan usaha bisa masuk ke bisnis pos tanpa pembatasan berat, para pengusaha jasa kurir jelas riang. Mereka yang bisa masuk adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), pihak swasta, ataupun koperasi.

Selain bisnis jasa pengiriman dokumen, swasta dan pihak lain juga bisa melayani jasa layanan surat elektronik, layanan paket, layanan logistik, layanan transaksi keuangan, dan layanan keagenan pos.

Selain itu, untuk meningkatkan persaingan, pelaku bisnis pos juga bisa melakukan kerja sama dengan pihak mana pun, entah itu yang berkecimpung di bisnis pos atau nonpos. Bahkan, bisa dengan investor asing.

Namun, kalau menggandeng pihak asing yang berkecimpung di bisnis serupa, peraturan ini membatasi ruang lingkup operasi bisnisnya. Mereka hanya bisa beroperasi di wilayah tertentu.

Menteri Komunikasi dan Informatika Mohammad Nuh bilang, pebisnis pos berbendera asing hanya boleh beroperasi di wilayah atau provinsi yang sudah memiliki bandara dan pelabuhan bertaraf internasional.

Pemerintah sadar, dengan membuka keran bagi investasi di industri perposan, PT Pos akan mendapat pesaing baru. Makanya, Pemerintah berencana melakukan penyegaran di tubuh perusahaan pelat merah ini dalam jangka waktu lima tahun. "Tidak cuma dana, tapi juga berupa kajian supaya ada kompetensi dan perbaikan layanan," jelas Nuh.

Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Postel Basuki Iskandar menegaskan, pertumbuhan industri pos di Indonesia bisa mencapai 10 persen per tahun. Total omzet industri ini bisa mencapai Rp 7 triliun-Rp 8 triliun per tahun. (Nasila/Kontan)

Kamis, 20 Agustus 2009

Harga Minyak Goreng Naik Menyambut Puasa


HARGA beberapa jenis bahan pokok terus naik menjelang puasa dan Lebaran ini. Di Malang, Jawa Timur, beberapa komoditas yang terus naik, di antaranya minyak goreng dan gula pasir. Di Kota Tegal, Jawa Tengah, harga beras pun terus naik seiring berkurangnya panen.

Di Pasar Dinoyo, Malang, misalnya, harga 1 kilogram minyak goreng curah Rp 8.500 per kilogram (kg). Padahal beberapa hari sebelumnya Rp 8.000 per kg. Harga gula pasir juga naik dari Rp 8 000 per kg menjadi Rp 8.500.

”Kenaikan gula dan minyak goreng memang selalu terjadi menjelang puasa dan Lebaran. Dua bahan itu paling dicari,” ujar Nuraziz, pedagang bahan pokok di Pasar Dinoyo, Rabu (19/8).

Harga beras juga naik meski perlahan. Jika sebelumnya per zak (isi 25 kg) sekitar Rp 132.000, saat ini Rp 135.000. ”Harga beras memang masih normal. Mungkin karena memang stok aman dan kebutuhan masyarakat tetap,” ujar Kepala Seksi Pelayanan Publik Bulog Subdivisi Regional Malang Priyo Susanto.

Ia menuturkan, stok beras di Bulog Subdivre Malang sebanyak 44.000 ton setara beras. Jumlah itu diperkirakan cukup hingga Maret 2010.

Di Kota Tegal, Jawa Tengah, harga beras pun terus naik seiring berkurangnya panen. Lima hari ini kenaikan harga mencapai sekitar Rp 200 hingga Rp 300 per kg. Sejumlah pedagang juga mulai mengeluh sulit mendapat pasokan.

Nuricha (52), pedagang beras di Pasar Induk Beras Martoloyo Kota Tegal, Rabu, mengatakan, harga beras jenis C-4 kualitas paling bagus naik dari Rp 5.000 per kg menjadi Rp 5.250-Rp 5.300. Harga beras C-4 kualitas kedua naik dari Rp 4.800 per kg menjadi Rp 5.000, sedangkan kualitas ketiga naik dari Rp 4.400 per kg menjadi Rp 4.800.

Menurut Nuricha, kenaikan harga beras disebabkan berkurangnya panen padi. Sebagian petani juga gagal panen karena tanaman terserang hama.

Meningkat

Siti (49), pedagang lain di Pasar Induk Martoloyo, mengatakan, memasuki puasa atau Lebaran, permintaan kebutuhan pokok cenderung meningkat. Kondisi itu ikut memengaruhi kenaikan harga beras.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jateng Ihwan Sudrajat memastikan stok bahan kebutuhan pokok dapat memenuhi kebutuhan masyarakat hingga Lebaran. Ia mengimbau pedagang agar kenaikan harga tidak melebihi batas kewajaran, yakni hanya sampai 20 persen.

Menjelang puasa ini, harga bumbu dapur dan sayuran di Kota dan Kabupaten Kediri, Jatim, naik. Adapun Pemerintah Kabupaten Boyolali, Jateng, membentuk tim guna mengantisipasi dan mengawasi peredaran daging sapi glonggongan selama puasa dan menjelang Lebaran. (vd/kom)

Rabu, 19 Agustus 2009

Pemerintah Inspeksi BlackBerry


oleh Neta Sugandi

Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) dan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) pada Rabu (19/8) melakukan inspeksi dan facts finding ke RIM-Authorized Repair Facility untuk layanan purna jual BlackBerry di Indonesia, yang beralamat di Jakarta.

"Hari ini siang hingga sore hari atau sekitar 2 jam kami telah memenuhi undangan dari pihak RIM (Research In Motion) dari Kanada yang telah disampaikan via email pada tanggal 15 Agustus 2009 untuk mengunjungi RIM-Authorized Repair Facility untuk layanan purna jual BlackBerry di Indonesia, di Jakarta," kata Kepala Pusat Informasi dan Humas Departemen Kominfo, Gatot S. Dewa Broto, di Jakarta, Rabu (19/8).

Ia mengatakan, kunjungan yang sesungguhnya merupakan inspeksi dan "facts finding" itu dilakukan oleh suatu tim khusus yang melibatkan beberapa pejabat Departemen Kominfo dan BRTI.

Hal itu dilakukan untuk menyaksikan secara langsung dan konkret tentang perkembangan RIM dalam mempersiapkan pendirian pusat layanan purna jual sebagaimana yang selama ini telah disampaikan perencanaan dan perkembangannya secara tertulis berturut-turut tertanggal 11 Juli 2009, 31 Juli 2009, dan 15 Agustus 2009 kepada Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar.

"Dan komitmen tersebut diulanginya kembali pada saat pertemuan antara Dirjen Postel beserta beberapa pejabat terkait dengan pihak Management RIM yang didampingi oleh Kedutaan Kanada di Indonesia pada tanggal 14 Juli 2009, dimana RIM sudah berjanji untuk membuka operasional layanan purna jualnya pada tanggal 21 Agustus 2009," katanya.

Gatot menegaskan, dalam peninjauan ke kantor RIM-Authorized Repair Facility itu, pihak Departemen Kominfo dan BRTI berusaha bersikap sekritis dan sekomprehensif mungkin dalam melakukan pengamatan dan penyampaian pertanyaan ataupun komentar terhadap presentasi RIM.

Tim khusus Departemen Kominfo dan BRTI sempat memperoleh kesempatan untuk meninjau seluruh fasilitas yang tersedia di tengah-tengah tenaga SDM RIM yang sedang menangani beberapa kasus kerusakan BlackBerry.

"Hanya saja kepada RIM, telah diinformasikan oleh tim khusus Departemen Kominfo dan BRTI ini, bahwa hasil inspeksi ini masih harus dievaluasi internal BRTI," kata Gatot.

Ia menambahkan, hasil evaluasi kemudian akan dibahas bersama oleh rapat pleno BRTI dalam waktu sesegera mungkin sambil menunggu laporan tertulis dari seluruh materi yang dipresentasikan oleh RIM beserta seluruh foto dokumentasinya lengkap untuk dijadikan bahan pertimbangan apakah Ditjen Poste/BRTI pada akhirnya akan menyetujui atau menolak atau mungkin menyetujui tetapi dengan beberapa catatan perbaikan yang masih harus wajib dilakukan oleh RIM untuk RIM-Authorized Repair Facility di Indonesia.

"Bahwasanya menurut RIM pada tanggal 21 Agustus 2009 ini akan menyampaikan pernyataan resminya kepada media massa tentang keberadaan RIM-Authorized Repair Facility yang akan membantu sentra-sentra layanan purna jualnya di beberapa tempat ini, maka Departemen Kominfo dan BRTI merasa tidak keberatan sejauh tidak menyebutkan sudah adanya approval dari BRTI, karena approval masih menunggu rapat pleno BRTI," katanya. (net/kmp)

Kamis, 23 Juli 2009

Jelang Panen Raya, Harga Gabah Anjlok


MENJELANG panen raya musim tanam kedua 2009, harga gabah di wilayah Banyumas dan sekitarnya mulai jatuh. Harga gabah kering panen di pasaran hanya Rp 2.200 per kilogram atau di bawah harga pembelian pemerintah Rp 2.400 per kg, sedangkah harga gabah kering gudang hanya Rp 2.700 per kg atau turun dari sepekan sebelumnya yang masih pada kisaran Rp 2.900 per kg.

Ketua Umum Asosiasi Perberasan Banyumas, Agus Purwanto, Kamis (23/7), mengungkapkan, penurunan harga gabah tersebut terjadi karena rendahnya penyerapan gabah petani oleh pasar. Bulog sendiri yang diharapkan menyerap gabah petani melalui mitra kerja, satuan tugas, dan unit pengolahan gabah dan beras (UPGB), justru lebih banyak membeli beras, bukan gabah.

"Ini yang sangat kami sayangkan. Kenapa Bulog justru membeli beras, bukannya gabah. Kalau seperti ini yang kasihan petani," ujar Agus.

Penurunan harga gabah itu terjadi merata di wilayah Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, dan Cilacap. Dikhawatirkan, penurunan bakal terus berlangsung hingga masa puncak panen yang diperkirakan akan terjadi pada akhir Juli dan awal Agustus ini.

Mitra-mitra kerja Bulog sebenarnya tak keberatan untuk membeli gabah. Namun, keterbatasan sarana gudang dan pengolahan membuat mereka tak dapat menyerap dalam jumlah banyak.

Fungsi penyerapan gabah dalam jumlah besar semestinya dapat dilakukan Bulog melalui satgas dan UPGB. Sayangnya, dua piranti Bulog dalam menyerap beras dan gabah petani tersebut kurang berorientasi pada gabah.

Pengusaha penggilingan gabah di Bukateja, Purbalingga, Mustangin, mengungkapkan, masih rendahnya penyerapan gabah di pasaran saat ini karena masih banyaknya stok beras di Banyumas dan sekitarnya. Stok berlebih ini berasal dari panen pertama yang berakhir bulan Mei lalu, serta panen kedua yang mulai terjadi di beberapa wilayah seperti Cilacap bagian timur, Banyumas bagian selatan, dan Purbalingga.

"Stok beras di Banyumas umumnya cukup meskipun stok nasional masih kurang. Akibatnya, penyerapan gabah pun tersendat. Imbasnya, harga gabah turun," kata dia.

Lebih jauh dia mengungkapkan, bila terus berlangsung, petani jelas akan dirugikan. Terlebih, pada masa tanam kedua ini banyak sawah yang rusak karena diserang hama tikus, terutama di wilayah Purbalingga.

Jumat, 19 Juni 2009

Keripik Kedelai Pugeran, Produk Rumahan Kualitas Industri


oleh Lucky Errol

SEBELUMNYA, keripik kedelai populer sebagai salah satu kudapan hidangan hari raya. Rasanya yang enak dan gurih membuat keripik ini menjadi hidangan favorit. Atmosfer yang membuat terbukanya pasar itu ditangkap oleh para pengrajin kerupuk kedelai di Desa Pugeran, Kec. Gondang Mojokerto. 

Langkah awal yang mereka lakukan adalah membentuk sebuah kelompok kerja yang disepakati bernama Kelompok Matahari, dengan anggots 18 ibu-ibu pengrajin. Dan, Yunanik disepakati sebagai ketua kelompok yang dibangun pada 2 tahun lalu itu. Konsep kerja kelompok ini untuk menjaga eksistensi dan persaingan harga antar pengrajin.

”Sebelum ada industri keripek kedelai, ibu-ibu di desa umumnya murni ibu rumah tangga. Saat ini, status pengrajin membuat ibu-ibu di sini ikut terlibat sebagai mesin pengail rezeki. Sehingga tingkat perekonomian kami pun mengalami peningkatan,” kata Yunanik saat ditemui di rumahnya.

Wanita yang memulai usaha sejak 6 tahun lalu ini mengatakan, kesuksesan yang didulang kelompoknya saat ini diluar prakiraan. Pasalnya investasi awal yang digunakan hanyalah alat-alat dapur sebagai sarana produksi.

Kendati demikian, setahun terakhir keberadaan para pengrajin keripik kedelai ini berhasil mengetuk empati Pemkab. Mojokerto. Terbukti dengan mengalirnya bantuan mesin pengiris keripik yang diberikan langsung oleh Bupati Mojokerto Drs. H. Suwandi MM., bulan Desember 2008 lalu. Mesin yang diterima 18 anggota kelompok pengrajin dibuat oleh SMK Jetis.
Saat ini, rata-rata setiap anggota kelompok, memiliki karyawan 2 hingga 5 orang tetangga masing-masing. Dengan jumlah produksi yang berkembang pesat antara 12kg hingga 24kg, maka setiap anggota memiliki omset bersih Rp 75.000 – Rp 100.000 per harinya.

Harga keripik kedelai yang ditetapkan kelompok Matahari sebesar Rp. 2.500 untuk kemasan 100gr, Rp. 5.500 untuk kemasan 225gr, Rp. 12.000 untuk kemasan 500gr, dan Rp. 24.000 untuk kemasan 1 kg.

Harga yang relatif murah itu, maka pemasaran keripik kedelai saat ini telah menguasai Kab./ Kota Mojokerto. Sejak setahun terakhir sudah merambah ke wilayah Jombang, Malang dan Surabaya. Mayoritas pemasaran mereka di tempat-tempat wisata yang dimiliki masing-masing daerah.

”Wilayah pemasarannya tidak diatur kelompok, karena diantara anggota sangat menjunjung etika bisnis. Wilayah yang sudah dimasuki salah satu anggota kelompok, tidak akan dimasuki anggota lainnya,” ujar Yunanik lagi.

Lontong Keripik

Pesatnya perkembangan pasar yang menyerap produk keripik kedelai kelompok ini, menurut solikah –salah satu pengrajin, tidak lepas dari bahan yang digunakan jenis impor. Biji kedelainya lebih kecil dan padat.

Bahan yang digunakan dalam memproduksi keripik adalah kedelai, tepung terigu, tepung kanji, telur, soda kue, bumbu-bumbu dan biji kedelai yang berguna pembuat rasa.

Sedangkan proses pembuatan yaitu merebus kedelai serta pengupasan kulitnya. Selanjutnya rebusan itu dicampur dengan bahan-bahan lain dan bumbu penyedap. Saat kedelai dan bahan lainnya tercampur membentuk lontong kerupik, maka proses selanjutnya lontong keriupik dikukus dalam dandang selama 2 jam.

Proses terakhir, lontong keripik ditiriskan, setelah dingin diris tipis-tipis dengan pengiris kemudian digoreng.

Ironisnya masa kedaluwarsa keripik kedelai yang diyakini Solikah mampu bertahan hingga 2 bulan, ternyata dalam praktiknya hanya bertahan selama 3-4 minggu saja. Kondisi keripik sudah melempem akibat kemasan, yang sudah bocor.

Karena itu, masing-masing pengrajin saat ini tengah berusaha mendapatkan mesin kemasan, yang mampu memenuhi standar ketahanan saat dipasarklan. Sehingga sistem perputaran produksi dan penarikan retur berlangsung sesuai target waktu setiap 2 bulan sekali.

”Salah satu kendala kami gagal memasarkan di supermarket adalah faktor kemasan. Jika kondisi ini dapat kami selesaikan, kami yakin pasarnya makin melebar,” ujar Teguh yang memproduksi keripik kedelai berlabel Teguh Jaya. (tribunonline@gmail.com)

Batik Tulis Mojokerto Berdendang di Tingkat Nasional


oleh: Fakih Ahmad, Prima Sp Vardhana

Merupakan salah satu budaya bangsa Indonesia yang sudah populer di tingkat internasional. Namun, selama ini yang terkenal hanyalah batik-batif yang bercirikan Yogya dan Solo, seperti kawung, parang, gondosuli, ceplok dan lainnya. Padahal Kota Mojokerto memiliki sebuah batik khas, yang memiliki sejarah lebih tua dibanding batik Jawa Tengahaan itu. Mengapa demikian.


Ini karena batik Mojokerto merupakan sebuah budaya kerajinan batik yang sejarahnya berkembang dengan masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Keunikan batik Mojokerto adalah pada nama-nama coraknya yang sangat asing dan aneh di telinga sebagian orang. Misalnya gedeg rubuh, matahari, mrico bolong, pring sedapur, grinsing, atau surya majapait.

Pengrajin batik tulis yang berhasil mempopulerkan Batik Mojokerto di tingkat nasional adalah Hindun (42), di Dusun Keboan Desa Gunung Gedangan Kec. Magersari Kota Mojokerto. Di rumahnya dapat ditemukan ratusan batik-batik itu, dengan warna yang sejuk dan mencerminkan kejayaan Majapahit.

Motif batik Mojokerto yang kini mulai dilirik pasar nasional dan dunia itu, menurut ia, merupakan desainnya dari hasil perenungannya. Dan, semua motif batik temuannya itu kini dikenal sebagai motif batik khas Kota Mojokerto. 

Desain batik itu, diakui, mengambil corak alam sekitar kehidupan manusia. Misalnya motif pring sedapur merupakan gambar rumpun bambu dengan daun-daun menjuntai. Ada burung merak bertengger. Warna dasarnya putih dengan batang bambu warna biru. Sedangkan daunnya warna biru dan hitam.

Demikian pula motif gedeg rubuh, coraknya mirip seperti anyaman bambu yang miring. Kalau mrico bolong, motifnya berupa bulatan merica berlubang.

Usaha batik tulisnya itu dimulai Hindun pada 1996. Semula semuanya ditangani sendiri mulai dari mendesain, meramu bahan pewarna, membatik, sampai memasarkan hasilnya. Namun perjalanan waktu menunjukkan usahanya mengalami perkembangan. Awalnya dia mampu membuat tiga lembar sebulan. Kini bisa mencapai puluhan lembar setelah mempekerjakan karyawan. 

Perubahan itu terjadi pada tahun 2000. Setelah tahun itu, usahanya mulai dikenal masyarakat dan omzet pesanan terus mengalir. Resikonya dia harus sesekali kerja lembur untuk memuaskan pembeli. Kendati demikian, dia belum mampu memenuhi semua pesanan pelanggan, sehingga harus merekrut pekerja dari tetangganya. Para pekerja itu hanya bisa membatik dan tak mahir mendesain, meramu obat batik serta tak bisa memasarkan hasil kerajinannya.

Pengalaman berbeda diutarakan pengrajin batik tulis Ernawati. Pengusaha sepatu di Surodinawan, Prajurit kulon ini, mulai belajar menjadi seorang pengrajin batik tulis saat masih duduk di kelas 4 SD. Dia mengawali keseriusannya dalam dunia batik sejak tahun 1994.

”Waktu itu, penjualannya hanya sebatas pada teman. Tapi sering kali mereka ikut membantu memasarkan pada kenalan masing-masing,” kata istri dari M. Zainudin yang juga sebagai pengusaha sepatu.

Setelah ijin produksi usahanya sebagai pengrajin batik tulis turun pada tahun 2001, maka dia pun lebih keras dalam memasarkan dan mengenalkan batik tulis khas Mojokerto itu pada masyarakat. Untuk menumbuhkan rasa cinta masyarakat, ia lakukan dengan bergabung pada perkumpulan-perkumpulan wanita yang ada di Mojokerto. Misalnya Paguyuban Pemberdayaan Perempuan Pengembangan Ekonomi Lokal (P3EL) dan Keluarga Informasi Masyarakat Kota. Selain itu, ia juga mengembangkan di SD di Surodinawan dengan status guru khusus kerajinan batik tulis.

Sedangkan motif batik yang dikembangkan Ernawati mencapai lebih dari 30 macam. Tapi produk miliknya ada 6 motif dan sudah di hak ciptakan dari Disperindag, seperti mrico bolong, rawan inggek, sesek grenseng, matahari, koro renteng, dan rengsedapur. “Kebetulan waktu itu memang ada kolektif, dan yang saya daftarkan itu merupakan motif yang paling diminati,” ujarnya.

Menurut ia, enam motif batik tulisnya memiliki daya tarik masing-masing, bahkan motif matahari pernah di pamerkan ke Australia 2007 lalu. Dengan ukuran tiga kali lipat besar kain yang biasanya dipakai.

Untuk harga, batik tulis Hindun dan Ernawati nyaris sama. Batik sebesar taplak ditawarkan Rp 37.500. Sedangkan batik yang berbahan katun berkisar Rp 125 ribu hingga Rp 1,4 juta. Harganya melambung jadi Rp 300 ribu sampai Rp 2 juta jika berbahan sutra. 

Pasar yang kini telah diraih tidak terbatas di wilayah Mojokerto. Namun sudah merambah ke Malang, Surabaya, betawi, Jakarta, Medan hingga Banjarmasin. Selain itu, Disperindag Kab. Mojokerto juga memberi dukungan pemasaran sampai ke Palembang dan pameran-pameran tingkat nasional. (tribunonline@gmail.com)